Mengasuh anak
Khutbah Jumat
M
Muhammad fathul mubarok
27 April 2026
5 menit baca
1 views
أَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّ...
أَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Hari ini, di hadapan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, marilah kita renungkan sebuah amanah yang teramat mulia, sebuah tanggung jawab suci yang akan menjadi saksi di hadapan Ilahi kelak: mengasuh buah hati kita, anak-anak kita. Mereka adalah titipan dari Ar-Rahman, permata jiwa yang tercurah dari langit rahmat-Nya. Memperhatikan mereka adalah perintah-Nya, mendidik mereka adalah jalan menuju surga-Nya. Jangan sampai kelalaian kita hari ini menorehkan penyesalan abadi di hari perhitungan kelak. Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah, kemudian setiap diri akan diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak akan dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 281)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Anak-anak kita adalah cerminan diri kita di masa depan. Tangan mungil mereka yang kini menggenggam erat jari kita, kelak akan menjadi tangan yang mengangkat kita ke derajat tinggi di kehidupan dunia maupun akhirat, atau sebaliknya, menjadi tangan yang menunjuk kesalahan kita di hadapan makhluk-Nya. Sungguh, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan kita dengan sabda beliau yang menyejukkan hati sekaligus tajam menusuk kesadaran:
"Setiap anak lahir di atas fitrahnya (Islam), maka kedua orang tualah yang membuatnya menjadi Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari dan Muslim)
Renungkanlah, wahai ayah bunda. Merekalah investasi terbesar kita di dunia yang fana ini. Merekalah tabungan amal jariah kita yang tak akan pernah terputus alirannya, asalkan kita mendidiknya dengan cinta, ilmu, dan iman. Mendidik anak bukanlah sekadar memberi makan, minum, dan tempat tinggal. Lebih dari itu, mendidiknya adalah menanamkan nilai-nilai kebaikan, adab yang mulia, dan kecintaan yang tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Menjadikan mereka pribadi yang shalih yang kelak akan mendoakan kita, "Rabbighfirli waliwalidayya..."
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Lihatlah bagaimana Allah memuliakan para nabi dan rasul dalam menjaga keturunan mereka. Nabi Ibrahim 'alaihissalam berdoa dengan penuh kerendahan hati:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh." (QS. Ash-Shaffat: 100)
Doa ini bukan sekadar permintaan atas keturunan, tetapi permintaan atas generasi yang saleh. Doa yang menggetarkan jiwa, merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta. Adakah kita telah memanjatkan doa yang sama? Adakah kita telah beriktiar sungguh-sungguh untuk mewujudkan generasi saleh yang menjadi penyejuk mata kita di dunia, dan penyelamat kita di akhirat? Tatapi, yang lebih penting dari itu, apakah kita telah menanamkan benih kebaikan dalam diri mereka, sejak dini? Ketahuilah, anak yang baik adalah hasil dari bimbingan yang baik.
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam telah mencontohkan bagaimana ia mencintai dan mendidik cucu-cucunya. Beliau memeluk Husain yang sedang bermain, bahkan membiarkannya naik ke punggung beliau saat salat, padahal beliau sedang dalam rangkaian ibadah. Ini mengajarkan kita bahwa kasih sayang dan pendekatan emosional adalah pondasi utama mendidik anak. Allahumma, jadikanlah anak-anak kami penyejuk hati, penolong agama-Mu, dan pembela Rasul-Mu.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Namun, acap kali kita terlena. Kita sibuk dengan urusan duniawi, hingga lupa akan amanah yang lebih hakiki. Kita lebih mementingkan sekolahnya yang bergengsi, dibandingkan sekolah akhiratnya. Kita lebih khawatir dengan penampilannya di mata manusia, daripada perilakunya di hadapan Allah. Ingatlah, dunia ini panggung sementara, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal. Allah memerintahkan kita untuk mendidik diri sendiri dan keluarga kita dari api neraka:
قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Api neraka itu begitu menyala-nyala, begitu mengerikan. Dan tanggung jawab kita adalah melindungi anak-anak kita dari kobaran apinya dengan membekali mereka iman, ilmu, dan amal saleh. Adakah kita menanamkan rasa takut kepada Allah dalam hati mereka sejak dini? Adakah kita membacakan kisah para nabi dan rasul, agar mereka meneladani keberanian dan keimanannya? Adakah kita mengajarkan mereka untuk selalu jujur, amanah, dan berbakti kepada kedua orang tua?
Wahai para ayah yang berjuang di medan dunia, jangan jadikan punggungmu hanya tempat bersandar bagi dunia, tapi jadikan ia pula pondasi kokoh bagi keimanan anakmu. Wahai para ibu yang merajut kasih di rumah tangga, jangan jadikan tanganmu hanya sibuk menata perabotan, tapi jadikan ia pula yang menata hati anakmu dengan kelembutan dan pengajaran ilahi.
Mari kita bermuhasabah. Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk anak-anak kita? Berapa banyak kesabaran yang kita curahkan untuk mendidik mereka? Adakah saat-saat kita duduk bersama mereka, mendengar keluh kesah mereka, dan membimbing mereka dengan penuh kasih sayang? Allah tidak melihat seberapa banyak harta yang kita berikan, melainkan seberapa banyak cinta dan pengorbanan yang kita curahkan untuk mendidik mereka di jalan-Nya.
Betapa rindu hati ini melihat anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, bermanfaat bagi sesama, dan menjadi cahaya di tengah kegelapan. Kerinduan ini harus kita wujudkan dengan nyata, dengan usaha yang sungguh-sungguh, dengan doa yang tak pernah putus.
B Pfarr. Allâhumma, limpahkanlah rahmat dan kasih sayang-Mu kepada anak-anak kami, jadikanlah mereka qari' dan hafizhah Al-Qur'an, jadikanlah mereka ulama dan ahli ibadah, jadikanlah mereka pembela agama-Mu, dan jadikanlah mereka aset terbesar bagi ummat Islam.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.